top of page

Terselamatkan oleh Kucing-Kucingku

14 April 2022 08.00 PM


Mungkin buat animal lovers, cerita ini bisa relate di kehidupan sehari-hari, tapi untuk orang biasa mungkin malah dianggap lucu dan ga masuk akal. Bisa dibilang, jiwa aku terselamatkan dan hidup aku jauh lebih indah karena kehadiran kucing-kucing yang aku temukan di depan rumah. Di tahun 2020, aku merasa capek hidup. Bukannya aku mau menyerah, tapi aku sempat berpikiran bahwa mungkin akan lebih baik jika hidup berhenti sampai disini saja. Pandemi penyebabnya? Bisa jadi. Atau mungkin lebih tepatnya karena aku menjalani kehidupan bukan atas dasar kemauanku. Sampai pada akhirnya pada bulan Maret 2021, I rescued 3 beautiful kittens. Sebenarnya tadinya ada 5 anak kucing, tapi 2 lainnya di rescue oleh tetangga yang juga cinta kucing. Usia mereka saat itu kira-kira 2-3 minggu, kupingnya masih ada yang tertutup walalupun matanya sudah terbuka lebar.


Ga ada satu orang pun (kecuali mbok di rumah) yang mengijinkan untuk aku rawat mereka bertiga. Alasannya karena bulu kucing membawa penyakit, terutama untuk perempuan. Aku sempat bimbang, tapi aku teguhkan dan ikuti kata hati untuk coba selamatkan mereka. Karena kalau mereka ga aku bawa pulang, aku rasa mereka ga akan selamat. Aku ga punya pengalaman mengurus binatang dengan baik, karena setiap kali aku beli kelinci ga sampai 2 tahun sudah mati. Apalagi kucing-kucing ini yang masih amat sangat membutuhkan induknya untuk menyusui dan menghangatkan tubuh. But I keep telling myself, “setidaknya kamu sudah berniat baik untuk menolong mereka Tya, kalau memang mereka tidak bertahan itu bukan salah kamu”. And guess what? Sampai sekarang sudah lebih dari 1 tahun tinggal di rumah, mereka masih aktif dan sehat.


Hari demi hari setelah mencoba mengurus mereka, pikiranku jadi teralihkan. Yang tadinya aku stress berat sampai sempat konseling ke psikiater, perlahan-lahan aku mulai lupa akan masalah-masalah yang membuat pikiran ini kacau. Yang tadinya hampir setiap malam aku nangis karena rasanya capek banget secara mental, lama-lama setiap kali aku liat mereka becanda atau kejar-kejaran aku terharu banget. They make me much happier. It feels like they are too important, they become family members. Sebisa mungkin aku berusaha supaya mereka mendapatkan hidup yang layak dan sehat. Aku jadi semangat menjalani hidup dengan perasaan ‘ga sabar ketemu mereka besok untuk liat tingkah konyol apa lagi yang mereka buat’. Bisa dibilang rasanya aku hidup untuk mereka. 'Lucu' ya?



Aku merasa lega dan bangga dengan diriku sendiri karena waktu itu aku memutuskan untuk lebih mengikuti kata hati dibandingkan saran orang sekelilingku. Bukan maksud aku untuk melawan omongan keluarga, tetapi mereka hanya ga tau gimana perasaanku waktu hampir menyerah hidup. Mungkin memang salah aku waktu itu ga menjelaskan secara detail atau berusaha membuat keluargaku mengerti betapa tersiksanya aku saat itu. Tapi ga ada yang aku sesali sama sekali mengenai keputusan yang aku ambil untuk merawat mereka.


Sampai pada waktunya di bulan Oktober aku harus mengucapkan selamat tinggal untuk sementara sama mereka, karena kepindahanku ke Bali untuk menyelesaikan studi. Hampir 7 bulan aku harus meninggalkan mereka di Jakarta, dan 1 minggu lagi aku akan kembali ke Jakarta untuk bertemu mereka. Well, sebenarnya aku akan pulang ke Jakarta untuk lebaran tapi rasanya alasan utama malah untuk bertemu anak-anakku. Hehehe.


Comments


Let me know what's on your mind

Thanks for submitting!

© 2022 by Aditya Putri Ismarini

bottom of page