top of page

Rencana Tuhan Memang Paling Indah

Bali, 2 Desember 2021 06.00 AM


Hari itu, 25 November 2021 tepat satu minggu yang lalu sore hari secara tidak sengaja aku membuka instastory orang-orang. Aku biasanya tidak terlalu suka atau sering liatin kegiatan orang-orang melalui instastory, tapi untungnya hari itu aku buka. Dan aku liat story Ita di sawah-sawah yang aku kira Tegalalang, langsung lah aku reply untuk tanya apa dia di Bali? Bahkan aku sampai videocall lewat dm wkwk saking penasaran dan ga sabar. Beberapa jam kemudian dia bales kalau ternyata dia bener di Bali, langsung aku videocall via dm lagi karena saat itu akhirnya dia online. Dan kita ngobrol sedikit di videocall, lanjut ke WA. Aku marah-marah ke Ita, kenapa ga ngabarin kalau mau ke Bali?! Ternyata Ita gatau kalo selama ini aku ada di Bali, dikira di Jogja. Untung banget Ita post story dan aku lihat :”)


Setelah chat panjang kita akhirnya memutuskan untuk ketemu dan aku nginep di hotelnya. Hari itu aku seneng banget dan ga nyangka kalau akan ketemu Ita, padahal waktu kita di Jakarta sama sekali ga ketemu bertahun-tahun. Ita sampai di Bali sendiri, sepupunya yang tadinya memang akan datang ke Bali sama Ita ketinggalan pesawat dan memutuskan untuk tidak berangkat, padahal udah bayar penginapan. Di chat Ita bilang kalau mereka tadinya berencana untuk ke Nusa Penida besoknya, hari Jumat, dan akhirnya ngajak aku ke sana. Gatau lagi harus berkata apa-apa, aku surprised banget dan memang dari dulu aku berencana ke Nusa Penida, yang mana adalah to-do list nomor 1 aku ke sana saat di Bali. Dari hari pertama sampai di Bali aku udah cari-cari info open trip ke Nusa Penida, aku catet harganya dan nama travelnya, aku bahkan sempat untuk membulatkan tekad pergi sendiri ikut open trip, tapi kemudian aku ragu karena sepertinya aku butuh teman yang udah aku kenal ke sana, supaya lebih asik. Aku berusaha untuk mengajak orang-orang yang aku kenal di Bali untuk pergi ke Nusa Penida, tapi sayangnya ga ada satu pun yang bisa. Sampai pada akhirnya harapanku dijawab melalui Ita. Ita pun demikian, dia sudah cari-cari info travel ke Nusa Penida tapi lebih mahal dari yang aku temui, dan bahkan mereka sempat berencana untuk ga ikut tour, cuma sewa motor dan keliling-keliling di Nusa Penida. Yang mana Ita akan sangat menyesal kalau jadi naik motor karena medannya curam dan terjal dan pasti akan capek, “yah sepupu gue enak tinggal duduk dibonceng, lah gua yang capek ngendarain motor!” gitu katanya.


Dari sedikit cerita tentang rencana ke Nusa Penida itu, kita bisa liat kalau sekeras dan seberusaha apapun manusia merencanakan, ternyata rencana Tuhan jauh lebih baik. Terbukti setelah aku berusaha dan belum mendapatkan apa yang aku rencanakan, Tuhan memberikan lebih dari apa yang aku butuhkan di waktu yang tepat, dengan orang yang tepat. Tuhan juga memberikan Ita sesuatu yang jauh lebih baik daripada rencananya, tanpa harus capek naik motor dengan rute yang membahayakan. Pas banget juga kakak sepupunya Ita yang tinggal di Bali lagi ga bisa nemenin jalan-jalan di hari Jumat karena udah ada rencana lain. Mungkin kalau mereka free, kita ga akan jadi ke Nusa Penida. Tidak hanya sampai disitu, meskipun pada awalnya kita dihadapi masalah dengan tour karena salah paham dan ada penyesalan dari kita karena ga duduk di atap kapal, tapi kita sangat bersyukur dapet tour itu dengan guide yang bisa pake SLR, guide yang bertanggung jawab, ngantriin untuk spot foto, ngarahin foto kayak fotografer bahkan guide nya yang lebih excited untuk foto dibandingin kita, guide nya ga lepasin kita gitu aja di tempat wisata, shout out to bli Atenk!!, jumlah anggota cuma tiga orang berasa private tour dan cuaca yang sangat cerah. Padahal malem sampai paginya hujan terus, udah deg-degan aja kalo di Nusa Penida akan hujan. Ternyata lumayan panas dan bahkan satu minggu setelahnya, Bali hujan terus sampai hari ini. Nusa Penida adalah highlight dan bukti bahwa rencana Tuhan jauh lebih baik. Aku sebelumnya ga pernah merasakan seperti apa yang ada di media sosial, orang-orang bilang tentang ini, tentang “God is good”, bahkan tentang “dipertemukan orang yang tepat di waktu yang tepat”. Oh, ternyata rasanya kayak gini toh.



Balik lagi ke cerita aku samperin Ita di hotelnya. Aku sampai di The Sun Hotel & Spa Legian, dan kita heboh banget pas ketemu. Of course! Bertahun-tahun ga ketemu dan surprisingly ketemu di Bali tanpa rencana. Kita cerita banyak, temu kangen. Besoknya kita ke Nusa Penida. Pulang dari Nusa Penida, kita makan di Mak Beng Sanur. Sampai di hotel, kita langsung nyebur renang, lega banget habis capek, lepek, sunburn. Besoknya, Ita kondangan, yang mana adalah tujuan utama ke Bali. Malemnya, aku samperin Ita lagi untuk nginep di Samaja Villas Seminyak. That was the first time I stayed in a private villa with a private pool. There will aways be the first time, right. Malemnya Ita bilang kalau besok rencana dia dan kakak sepupunya yang suami istri ini akan jalan-jalan ke Ubud. Sayangnya Ita belum tau apa mereka memperbolehkan aku ikut atau engga. Disitu aku merasa sangat down dan bimbang, berharap bisa ikut mereka tapi takut kalau berharap terlalu tinggi nanti akan kecewa. Makanya aku berusaha siap ngadepin kalau-kalau memang aku ga ikut. I prepared for the worst. Luckily, ternyata mereka welcome banget dan bolehin aku untuk ikut. Speechless and happy. Kita pergi ke Kintamani untuk survey camping mereka yang menghadap Gunung Batur, lalu makan di el lago mountain view. Ngopi di Wyah art & creative space Ubud, dan akhirnya sampai di penginapan Ubud Tropical Gardenview 2. Paginya sebelum checkout, kita berenang lagi dan penginapannya kosong abis. Cuma kita berdua yang nginep jadi berasa private pool. Yang bikin aku speechless lagi, mobil kakak sepupunya Ita itu honda HRV yang merupakan mobil impianku dari bertahun-tahun lalu. Akhirnya baru kali ini kesampaian naik mobil idamanku :”) Di mobil aku berdoa terus supaya suatu saat bisa beli mobil ini yang warna putih :”) Another surprise from God.



Ubud was the last stop for Ita’s trip to Bali. Malam itu aku ngerasa campur aduk, seneng iya, sedih juga karena trip ini soon to be ended. Kita cerita-cerita paginya, dan ternyata banyaakkk banget hal-hal yang secara kebetulan membuat kita dekat. Dulu Ita tinggal di sebelah Gramedia dan aku dulu sering ke sana, jangan-jangan kita pernah papasan. Ita sekolah SD di Marsudirini (yang deket banget dari rumah aku), mama juga SD nya disitu. Dan masih banyak lagi yang lain yang bikin ga nyangka kalo ternyata kita selama ini udah deket dari kecil :”) Then I accompanied her to the airport. I hate saying goodbye in airport, I always try to avoid it, bahkan waktu ke Bali aku larang orang rumah untuk anter karena I don’t wanna be sad saying goodbye. Itu adalah lima hari empat malam terbaik selama aku di Bali. Dan momen-momen itu terjadi tanpa rencana yang aku buat. Makasih ya Ta udah tiba-tiba dateng ke Bali, sendirian pula, gue tau kalo awalnya lo kesel dan bete banget sama keadaan bahwa sepupu lo batal ke Bali dan udah pasrah aja kalo harus di Bali sendirian. Ternyata gue hadir di saat yang tepat juga ya. Makasih juga buat Eta, sepupunya Ita yang ga jadi dateng ke Bali, aku bisa nginep sama Ita secara gratis udah dibayarin hehehe. Maaf ya aku bersenang-senang karena kebatalannya dateng ke Bali. Karena kalo Eta jadi dateng ke Bali, aku ga mungkin bisa liburan sama Ita selama lima hari itu. Makasih banyak juga buat kak Ria & Rio, udah mau nerima aku dan bawa kita jalan-jalan dengan mobil impianku :”)

Comments


Let me know what's on your mind

Thanks for submitting!

© 2022 by Aditya Putri Ismarini

bottom of page